Well, darimana dulu ya,
aku mulai ceritanya. Hm, baiklah, mungkin dari perkenalan dulu, nam
aku Vera, just a simple name, right? Nothing special ‘bout me.
aku hanya seorang cewek kuliahan yang pemalu, terlalu pemalu malah. Semester ini terlalu sepi bagiku, “Hufftt…”
aku menghela napas berat sambil menuju tempatku biasa bersemedi, yup! Dimana lagi kalau bukan di perpustakaan. Semua cewek berkacamata sepertiku memang hidup di perpustakaan dan bukan kehidupan malam yang glamour.
aku berjalan sambil membawa setumpuk buku tebal tentang diktat kedokteran.
aku sudah membuka pintu perpustakaan perlahan hingga kudengar sebuah suara yang tertahan. Suara antara kesakitan dan… keenakan?
aku berjalan menuju asal suara. Di ujung pojok perpustakaan memang tempat yang gelap,
aku tidak akan berani kesana karena
aku pen
akut.
aku melihat kanan-kiri, tidak ada dosen ataupun penjaga perpustakaan saat ini.
aku melirik jam tangan, Oh, pantas, sekarang’kan waktunya istirahat.
aku berdiri dibalik lemari tinggi penuh buku,
aku berusaha melihat dari balik celah lemari. Dua sosok bayangan sedang mel
akukan sesuatu dan suara-suara itu semakin liar.
aku membersihkan kacamat
aku, berusaha melihat lebih jelas lagi. Dan
aku terkesiap saat melihat seorang cewek menghisap benda panjang dan besar milik seorang cowok.
aku berusaha menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara sedikitpun,
aku tidak mau sampai ketahuan.
Cewek itu kukenal dengan kak Windy, sedangkan yang cowok adalah kak Ryan. Sial, cowok itu’kan pacarnya temanku, ternyata cowok itu selingkuh, harus kurekam dan kujadikan bukti.
aku merogoh ponselku dan mulai ku rekam semua adegan mesum itu.
“Ahhh… Hssss… Enak Win.. kamu hebat sayang..” Kak Ryan mulai berbicara tidak karuan, sedangkan kak Windy asyik menjilat ujung penis kak Ryan.
“Hmmphh… kontol kamu enak, sayang.. hmpphhh… “ mulut kak Windy penuh dengan kontol cowok itu,
aku yang membayangkan saja seperti ingin muntah. Apa sih enaknya benda besar dan panjang itu?
Kak Ryan memaju-mundurkan kontol besar miliknya di mulut kak Windy, sesekali kak Windy tersedak oleh benda panjang itu sedangkan tangan kak Ryan menggerayangi tubuh Kak Windy yang terbalut kaos warna ungu.
Disingkapnya kaos ungu kak Windy sehingga bra yang menutupi dada ranum itu terlihat jelas.
aku meneguk liur dengan susah payah.
“Nakal ya… kamu mau minum susu sayang?” Tanya kak Windy dengan wajah mesumnya, dan dijawab dengan anggukan kepala kak Ryan, “Iya..
aku mau nete..”
Kak Windy terkikik geli, lalu menyingkap bra putihnya, dan puting yang keras itu mengacung menantang ke wajah kak Ryan. Dengan kelaparan, kak Ryan menyantap puting itu tanpa permisi. Menghisapnya, menggigitnya, menjilat-jilatnya, bahkan sesekali ditarik karena saking gemasnya.
“Ahhhkk.. jangan ditarik sayang.. uuhhhh.. sakiit… hhhssss… oohhh..” kak Windy menikmati sentuhan kasar kak Ryan yang meremas-remas dadanya.
“
aku suka… hmmphh… enak… nenen… mmhmmpphh..” kak Ryan makin tambah meracau tidak jelas, dan tangannya mulai melepas celana jins kak Windy.
“Jangan dilepas sayang, nanti ada yang lihat.”
“Biarin,
aku gak peduli.” Kak Ryan langsung menarik paksa celana jins dan celana dalam kak Windy, lalu membuka lebar paha cewek cantik itu.
“Memek yang cantik… hmmphh…” kak Ryan langsung menjilat memek kak Windy, membuat suara berdecak basah dari memek itu.
“Ahhhh… enak…. Nghhhh… god.. oohhhh…” kak Windy bergerak dengan sensual.
aku harus menahan gemetar dan wajah merahku ketika merekam semua adegan itu.
Kak Ryan menepuk-nepukkan kontolnya ke lubang kak Windy, seperti memberi salam terlebih dahulu.
“Windy sayang, bilang ‘halo sama Mr. P…” kata kak Ryan sambil tetap menepuk memek kak Windy dengan kontol besarnya.
Kak Windy terkikik geli, “Halo Mr…. Ahhhkkk!!” belum selesai memberi sapa, kak Ryan langsung menyodok memek kak Windy dengan kontol besar miliknya. Menggenjotnya tanpa ampun.
“Aaahhkkk…. Ryan.. Aahhkkk.. stop!! Sakit… AAhhhkk!!” kak Windy berusaha mendorong tangan dan badan kak Ryan, tetapi sepertinya percuma, kak Ryan menyodok memek kak Windy seperti orang kesurupan, cowok itu mendengus keenakan.
“Hsss…Ahh.. enak banget memek kamu sayang.. oohh.. memek.. uuhhh….
aku ngentotin kamu…” kak Ryan terus menyodok memek kak Windy dengan cepat, membuat suara-suara decakan basah dari memek itu, dan cairan bening melumer di sekitar selangkangan kak Windy.
“Ahhhh…. Jangan keras-keras sayang… nanti kita ketahuan…aahhkk!”
“
aku gak peduli… ohhh.. memek!! Oohhh.. ngentotin kamu enak… ngentot sama pelacur kayak kamu enak banget…” kontol kak Ryan terus menyodok memek kak Windy, sedangkan tangannya sibuk menggesek-gesek daging kecil di memek itu.
“Aahhkkk!! Stop Ryan!! Aaahkkk…”
“Enggak... Hssss!!
aku sodok kamu lagi… oohhh.. kusodok lagi.. sodok.. uuhhh..” kak Ryan memutar tubuh kak Windy, membuat gaya mereka menjadi doggy style. Kak Ryan menyodok dari belakang.
“Ahhh.. Ryan… oohh… terus sayang.. enak banget…” kak Windy bergerak sensual dengan memaju-mundurkan pantatnya. Tangan kak Ryan meremas-remas dan menarik puting kak Windy.
“Hsss.. oohhhh!! Kamu memang pelacur, Win… ohhhh.. pelacur… perek.. Hsss..!! enak kontolku Win… ohhhh enak dijepit ma memek mu…. Ohhh… !!” kak Ryan merasakan kontolnya berdenyut hebat.
“Ahhh… Ryan.. keluarin kontol kamu… aahkkk!! Keluarin Ryan…Hsss…” kak Windy berusaha melepaskan diri dari kak Ryan, tetapi sepertinya cowok itu terus menggenjot pantat kak Windy sambil mendekapnya dari belakang. Puting kak Windy di tarik dan diplintir-plintir lagi.
“Ahhhh.. enggak!! Gak akan
aku keluarin.. aahhhh.. biarin kamu hamil… oohhh.. pelacur.. oohhh…!!”
Uuuhh.. lepasin… hsss…aahh…” kak Windy terus merasakan denyutan kontol kak Ryan di memeknya yang becek.
“Aahhhh..
aku keluar Win…
aku mau nge-crot, Win.. oohh…
aku pipisin kamu… aahhhkk..
aku pipisin memek pelacurmu itu… ohhh.. ohh….Aaaahhhhkkkkk.!!!!”
“AAhhkkkkk Ryan!!” kak Windy berteriak nikmat dengan tubuh mengejang.
Croot..Croot… -kak Windy merasakan sodokkan keras kontol kak Ryan beberapa kali di dalam memeknya.
“Haaaahhhhh... haaahh….” kak Ryan masih membenamkan sebentar kontolnya, lalu melepaskannya dengan cepat dan cairan putih keluar menetes dari memek kak Windy yang basah.
aku menatap semua adegan yang bisa dilihat di blue film itu secara live. Entah harus bilang beruntung atau sial, yang pasti saat itu tanganku gemetar merekam semua adegan tanpa iklan itu.
aku melihat kak Ryan sudah memakai kembali celananya dan kak Windy masih mengatur napas di lantai. Kak Ryan berbisik sebentar lalu tersenyum ke arah kak Windy dan kemudian pergi keluar dari perpustakaan.
aku masih diam di tempat, tidak berani membuat suara sedikitpun.
aku melihat kak Windy berusaha duduk di meja lalu mengeluarkan rokok yang terselip di kantong celananya. Membakar ujung rokok dengan api lalu menghisapnya dalam-dalam.
“
aku tahu kamu disitu. Keluar sekarang.” Seruan kak Windy yang tenang membuatku kaget. Jantungku berdegup kencang karena
aku ketahuan mengintip. Sial, kat
aku dalam hati.
Kak Windy melirik lemari tempatku bersembunyi, “Cepat keluar sekarang.”
Dengan gugup dan tangan gemetar
aku keluar secara perlahan dari tempat persembunyianku.
aku bisa melihat kak Windy menyeringai ke arahku.
“Well.. well.. ternyata ada anak kucing manis yang tersesat.” Kak Windy bergerak ke arahku,
aku melirik t
akut namun masih dapat kulihat tubuhnya yang telanjang bulat.
aku mundur perlahan sambil mendekap buku diktatku. Kak Windy menarik ponsel yang kupegang dengan paksa.
“Ya ampun.. ada penguntit rupanya. Mesti dihukum nih.” Kata kak Windy tenang, sedangkan jantungku sudah kalang kabut menantikan hukuman apa yang akan dil
akukan kakak seniorku itu.
Tanganku ditarik paksa, membuat semua buku yang kupegang berdebam jatuh ke lantai.
“M..maaf kak… lepasin
aku…
aku janji gak akan bilang ma siapa-siapa.” Suara yang keluar dari mulutku lebih terdengar seperti cicitan tikus yang ket
akutan.
Kak Windy menyeringai sinis, “Gak ada maaf dan ampun.” Katanya dingin. Dan sekali lagi
aku mengigil ket
akutan.
aku menunduk menatap lantai, kemudian tangan kak Windy meraih kacamata di wajahku dan meletakkannya di atas meja. Kak Windy bersiul takjub, “Gak kusangka kamu manis juga.
aku pikir semua kutu buku itu jelek, ternyata ada juga yang manis banget kayak kamu.” Kak Windy tersenyum menyeringai lagi.
Sekarang tangan kak Windy menelusuri kemeja putihku yang transparan, “Ja..jangan kak..”
aku berusaha berontak dengan halus tetapi tatapan kak Windy membuatku ket
akutan.
“Denger ya… kalo loe teriak, ponsel loe bakal gue hancurin.” Kak Windy mulai kesal dan
aku tidak berani membantah lagi.
Melihat sikapku yang diam ket
akutan, kak Windy dengan tersenyum mengelus pipi mulusku, “Nah, kalo jadi anak baik begini,
aku ‘kan gak bakal kasar sama kamu, manis.” Katanya lagi sambil mengecup keningku.
aku memejamkan mata erat-erat dan merasakan kecupan bibir kak Windy di bibirku. Dia menjilat bibirku hingga basah tetapi
aku tetap tidak menunjukan sikap untuk membalas kecupannya, dan itu membuatnya kesal, “Buka mulut loe..!” seru kak Windy marah.
Dengan ket
akutan
aku membuka mulutku perlahan, sedikit celah mebuat lidah kak Windy merogoh mulutku dengan liar.
aku berusaha berontak, ”Hmmphh… kak…hhnnngg…lepas…”
aku memohon, tetapi cewek itu terus memainkan lidahnya dimulutku. Menyentuh rongga mulut dan lidahku dengan brutal.
Kak Windy mendorongku hingga pinggulku menyentuh meja di belakangku, dia melepaskan ciumannya dengan kecupan panjang, membuat jaring saliva di sekitar bibir kami. Kak Windy menyeringai lagi sambil mengelus rambut hitam panjangku.
“Kucing manis… manisnya..” Katanya sambil membuka kancing kemej
aku satu persatu.
aku berontak lagi, “Ja..jangan kak… lepasin bajuku..” Kat
aku ket
akutan dan itu membuat kak Windy marah.
PLAK!
aku ditampar oleh kak Windy membuatku kaget dan pipiku langsung merah karena sakit.
Kak Windy menjambak rambutku, “Gue bilang loe itu kucing… kucing gak ngomong.. dia mengeong.. ayo mengeong!” Serunya kasar,
aku terisak ket
akutan.
“Ayo mengeong!!” teriaknya tidak sabar.
“Me..meeong…”
aku memaksakan suar
aku, dan itu membuat kak Windy tersenyum puas lalu mengelus pipiku yang merah karena ditampar.
“Nah…gitu’kan manis.. harus jadi anak baik…sekarang lepas baju kamu.” Katanya pelan tetapi penuh dengan nada mengancam. Dengan ket
akutan
aku membuka kemeja putihku, menampakan bra hitam yang membalut dada besarku.
“Dada yang besar…
aku suka..” katanya sambil menjilat bibir bawahnya.
aku ket
akutan.
Tangan kak Windy meraih bra hitamku dan mengangkatnya ke atas, membuat dad
aku keluar sepenuhnya. Putingku mengacung keras, sedangkan dad
aku bergoyang ketika kak Windy menyentuhnya.
“Mulus… empuk… kenyal..” Kata kak Windy sambil menggoyang-goyang dad
aku yang besar. Dad
aku bergoyang ke atas-ke bawah, ke kiri dan kanan, lalu tiba-tiba putingku ditarik hingga membuatku kaget.
“Ahhhhkk…” Tanpa sadar
aku mengeluarkan suara sensual dari bibirku, kak Windy tersenyum menyeringai sedangkan
aku cepat-cepat menutup mulutku dengan tangan.
Kak Windy menyingkap rok panjangku, menampakkan paha mulus dan memekku yang terbalut celana dalam putih. Dia menyuruhku duduk di atas meja, kuturuti tanpa komentar sedikitpun.
Kak Windy membuka pah
aku, membuatku harus mengangkang ke arahnya,
aku menahan rasa malu ku dengan memejamkan mata erat-erat. Dia membuka memekku, melihat dengan takjub lipatan berwarna merah muda dan lubang kecilku. Dia menyentuh daging kecilku, menarik-nariknya dengan penasaran lalu menggeseknya dengan cepat.
“Hnnn…nnnggghhh…”
aku menahan desahanku. Kak Windy lagi-lagi tersenyum sambil terus memainkan daging kecil di memekku dan tangannya meremas-remas buah dad
aku yang besar.
“Ayo mengeong…” Kata kak Windy sambil terus menarik-narik putingku, sesekali ditamparnya dad
aku karena gemas sedangkan memekku di pijit-pijitnya dengan lembut.
“Me..meoong… aaahhh.. hhnn… meoong…”
aku keenakan menikmati sentuhan jarinya di memekku. Kak Windy menyentuh memekku dengan lima jarinya seperti ingin membasuh tangannya dengan lendir dan cairan beningku.
Kak Windy menatap sekeliling ruangan, seperti mencari sesuatu, lalu matanya jatuh pada spidol hitam kecil di bawah meja.
aku merasakan firasat buruk.
“Ja..jangan kak… ahhhhkk!” Belum selesai
aku bicara, benda hitam kecil itu sudah dimasukkan ke memekku.
“Manisnya… aahh… hhmmphh..” Kak Windy menciumiku, benda kecil hitam itu di obok-obok ke memekku, membuatku menggelinjang keenakan. hingga..
Plok.. Plok.. Plok –suara tepukan tangan seseorang membuatku kaget, di balik rak buku itu, kak Ryan menatap kami dengan menyeringai. Ti..tidak mungkin, kat
aku dalam hati.
Kak Ryan memegangi handycam di tangannya sambil menyorotku, kontol di balik celananya sudah mengeras. “Ya ampun, Windy… loe dapet kucing cantik, ya? Bagi-bagi lah..” kata kak Ryan sambil menarik puting dad
aku, dan meremas payudar
aku dengan semangat.
“Astaga, nenen yang gede… memek yang perawan..” kak Ryan menjilat bibirnya seperti kelaparan.
aku makin ket
akutan.
Kak Ryan meletakkan handycamnya di salah satu rak dengan lensa yang yang menyoroti ke arah kami. Dia ingin merekam semua adegan ini,
aku menggigil ket
akutan.
Kak Ryan lalu cepat-cepat melucuti celananya, dan kontolnya sudah berdiri mengacung dengan keras.
aku ket
akutan,
aku berusaha kabur, tetapi dengan sigap kak Ryan menangkap pinggulku dan membantingku dengan pelan ke lantai.
“Tidak!! Gak mau!... jangan kak.. jangan!!” kak Ryan menindihiku sedangkan kak Windy memegangi tanganku biar tidak berontak.
“Anak cantik.. kucing manis…” Bisik kak Windy di teling
aku, mulutku di tutup oleh tangan kak Windy agar
aku tidak bersuara.
aku menatap horror kontol kak Ryan yang di tepuk-tepukannya di dad
aku.
“Ohhh.. nenen nya gede… oohhh.. enaakk.. Hsss…” kak Ryan menjepit kontolnya di belahan dad
aku,
aku merasakan kedua putingku saling bergesekan dengan kulit kontol kak Ryan.
aku menangis ket
akutan.
“Hmmphhh… nngghhh… mhhhpphh…”
aku berusaha teriak, tetapi mulutku terus ditutup.
Kak Ryan mengerjap-ngerjap keenakan.“Ohhh… nenen… ohh… enak banget.. anjing enak banget…ohh..” Kak Ryan terus menggenjot dad
aku kemudian menghentikannya ketika dirasa kontolnya berdenyut.
Kak Ryan tersenyum, sambil mengelus-elus kontolnya pelan, kemudian mulutku di buka secara paksa, sebelum bisa teriak, mulutku di sodok dengan kontol kak Ryan.
“Ohhhkkk… hhooookkk… hhpppphh…”
aku tersedak dengan benda panjang besar itu, rasanya tidak enak, sangat tidakenak. Air mat
aku terus mengalir karena ket
akutan. Kak Windy tertawa seram sambil menghisap putingku, menghisapnya lagi, dan menggigitnya.
“Air susunya tidak keluar…” Kata kak Windy sambil menyeringai. Kemudian menghisapnya lagi sekuat-kuatnya dan melepaskannya dengan suara decakan keras. Air liurnya menetes di ujung putingku. Dijilatnya lagi, kemudian karena gemas, dad
aku di tampar. Rasanya sungguh sakit, dad
aku ditampar berkali-kali, bergoyang ke kiri dan kekanan, sedangkan mulutku terus disodok oleh kontol yang besar.
“Hhook… oohhhkkk… ngghhh…” Tenggorokan ku rasanya seperti dimasukan rudal besar, kak Ryan menyodok-nyodok tanpa henti, sampai
aku bisa merasakan dua buah biji kontolnya menyentuh bibir bawahku.
“OOhh.. enaak banget.. aahhhkk… kontolku dihisap… oohhh…” kak Ryan selalu meracau tidak jelas. Hingga
aku bisa merasakan denyutan kontol kak Ryan.
“Ohhh.. gue mau nge-crot… oohhh… kontolku mau nge-crot… aahhkk.. makan nih kontol… Ahhhhkkk!!”
Croot…croot..crooot –kak Ryan mengejang hebat sambil membenamkan dalam-dalam kontolnya di mulutku,
aku ingin muntah ketika cairan putih itu menyebur ke seluruh mulutku hingga menetes keluar dari bibirku. Mat
aku berair menahan gejolak mualku.
Kak Ryan melepaskan kontolnya dengan cepat, dan
aku harus tergolek lemas di lantai, kak Windy tersenyum lalu menjilat mulutku yang penuh dengan sperma kak Ryan.
“Hmmphh.. enak…hmmphh.. sperma kamu enak Ryan..” kata kak Windy menjilat seluruh rongga mulutku.
Kak Ryan mulai memijat-mijat memekku. “Ahhh.. memek yang cantik…” Kata kak Ryan sambil menjilat daging kecil memekku dan menggigitnya dengan gemas.
aku terkesiap.
“Ahhkk.. jangan.. ahhkkk..!!”
aku merasa t
akut dan enak disaat bersamaan. Melihat
aku mulai berontak, kak Windy memegangi erat tanganku lagi.
Kak Ryan mengelus-elus kontolnya yang sudah tegang kembali, kemudian menepuk-nepuk memekku dengan kontolnya.
aku ket
akutan setengah mati. Tanpa sadar
aku menendang perut kak Ryan dan berlari kabur.
“Sialan! Kejar Win!” kak Ryan meraung marah. Dengan sigap kak Windy berlari mengejarku. Ketika
aku hampir menggapai kenop pintu, lagi-lagi
aku tertangkap kak Ryan.
“Tidaakk! Lepaskan
aku!!”
aku berontak,
aku menendang dan memukul apa saja. Kak Ryan menyeretku ke pojok ruangan dan membantingku ke dinding.
aku menangis meraung. kak Windy menamparku wajahku. “Dasar anjing!” katanya geram.
Kak Ryan menyeringai, dan menjambak rambutku, “Denger ya, loe gak bakal selamat karena udah bikin gue kesal.” Dengan marah, kak Ryan membalikkan badanku ke dinding dan menyodok lubang memekku dari belakang.
“AAhhhhKKK!! Sakiitt!! Ahhhkkk!!”
aku berusaha berontak lagi, tapi kak Ryan menahan tanganku ke dinding dan memasukkan kepala kontolnya ke lubang memekku dengan perlahan. Darah langsung keluar dari memekku.
Kak Ryan mula-mula memasukkan dan mengeluarkan kontolnya dengan pelan. Masukan lagi dan tarik lagi. Kontol kak Ryan menyodok memekku yang basah oleh lender dan darah.
“Ahhhkk sakit kak!”
aku menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhku, rasanya seperti disobek dengan paksa. Sedangkan kak Ryan mulai menggenjot memekku dengan paksa.
“Aahh.. enak… rasain nih kontol.. aahh.. sial… sempit banget… oohhhh…Hss.. aahh.. memek perawan enak.. ohhh.. memek… oohh… dasar memek anjing.. oohhh…” kak Ryan ngentotin memekku dengan cepat, sedangkan kak Windy duduk di meja sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Jangan kak! Jangan ngentotin
aku kak!! Sakit.. ahhkk.. .. ahhkk!”
aku berteriak, kakiku tidak sanggup berdiri. Kak Ryan langsung membalikkan badanku, kini kami saling berhadapan, kakiku kananku diangkatnya dan ditaruh ke bahunya yang lebar. Kemudian, kak Ryan mulai menggenjot lubang memekku lagi. Darah menetes ke lantai dan di pah
aku, tetapi tidak dipedulikan kak Ryan. Cowok itu asyik menghisap puting dan menyodok memekku.
“Ohhh.. enak banget nenen… oohh… kontolku dijepit memek… Hsss… Hss..enak banget…
aku sodok..
aku perkosa kamu…ohhhh..” Kak Ryan mendengus keenakan. Kontolnya dibenamkan dalam-dalam ke memekku hingga
aku bisa merasakan kontolnya mendorong hingga mentok di dalam memekku.
Sodokan kak Ryan makin lama makin cepat, dia mulai berteriak tidak karuan, “Ahhhkk,,, memek… oohhkk memek..!!”
“Ngghh… aahhhkk.. sakit kak! Uhhhkk..”
aku menahan tangis. Memekku rasanya sakit sekali, sedangkan dad
aku di remas-remas tanpa ampun oleh kak Ryan.
“
aku mau nge-crot.. aahkk.. sedikit lagi.. ohhhkk… kontolku mau nge-crot.. aahhkk… enak banget ngentotin memek anjing kayak kamu.. ohhh..” kak Ryan memejamkan mata keenakan, merasakan kontolnya yang diremas-remas memekku.
“Ohhh.. gue hamilin lo, njing! Oohhkk.. gue hamilin loe! Ahhhkkkk!!”
Crot..croot..croot.. –Kak Ryan bergetar ketika menyemprotkan spermanya di memekku dan
aku bisa merasakan cairan hangat yang melumer di dalam perutku.
aku terjatuh ke lantai, cairan putih keluar perlahan dari lubang memekku. Kak Windy tersenyum menyeringai sedangkan kak Ryan mengelus-elus rambut hitamku, “Anak manis..” katanya sambil terengah-engah dan kemudian mengecup pipiku dengan lembut.
aku tidak dapat mengingat apa-apa, tiba-tiba semua menjadi gelap. Apa
aku pingsan? Entahlah,
aku tidak peduli, yang penting
aku tidak mau mengingat apa yang terjadi. Mungkin lain kali,
aku tidak akan berani mengintip orang yang berbuat mesum.
aku kapok, sungguh!
Tiba-tiba..
.
.
KRIINNNGG!!! –suara jam weker membuatku kaget dan terjatuh dari tempat tidur.
aku segera memakai kacamata yang berada di atas meja. sudah jam 8 pagi?
aku menghela napas berat, ternyata semua itu cuma mimpi, sial! Gerutuku dalam hati.