Selasa, 13 November 2012

cerita Ngentot Dosenku Yang Sexy








banget-mojok.blogspot.com








Ngentot Dosenku Yang Sexy








Dosenku Seksi Sekali, Ya, aku dan teman-temanku sering bergurau begini saat


melihat Bu Via: jika rambut di tempat yang terbuka saja


subur, apalagi rambut di tempat yang tersembunyi. Dan


ternyata aku bisa membuktikan gurauan itu. Ternyata


rambut di tempat itu memang luar biasa. Bahkan aku yang


semula berpikir rambut yang menghiasai vagina Kiki luar


biasa karena subur dan indah, kemudian menerima


kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu milik Bu Via


ini. Dari samping keadaan itu seperti taman gantung Raja


Nebukadnezar saja 








Segera berkelebat pikiran dalam otakku, betapa


menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu.


Maka aku segera menenggelamkan diri di tempat itu, di


hutan itu. Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan


kemudian melanjutkannya pada sumur di bawahnya. Maka Bu


Via menjerit kecil ketika lidahku menancap di lubang


sumur itu. Di lubang vaginanya. Bau khas vagina yang


keluar dari lubang itu semakin melambungkan gairahku.


Dan jeritan kecil itu kemudian di susul jeritan dan


erangan patah-patah yang terus menerus serta


gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan. Dan kurasa ia


memang kepanasan oleh gairah yang membakarnya.








Aku menikmati jeritan itu sebagai sensasi lain yang


membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di


lubang sumur vaginanya. Lendir hangat khas yang keluar


dari dinding vaginanya terasa hangat pula di lidahku.


Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil


di atas lubang vaginanya. Di klitorisnya. Maka semakin


santerlah erangan-erangan Bu Via yang mengikuti


gerakan-gerakan menggelinjang. Demikian kulakukan hal


itu sekian lama.








Kemudian pada suatu saat ia berusaha membebaskan


vaginanya dari sergapan mulutku. Ia menarik sebuah


bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakinya untuk


mengangkang. Aku dimintanya duduk di bangku itu. Begitu


aku duduk, ia kembali memagut penisku dengan mulutnya


secara lembut. Tapi itu tidak lama, karena ia kemudian


memegang penisku yang sudah tidak sabar mencari


pasangannya itu.








Bu Via membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan


keras itu masuk ke dalam vaginanya dan ia duduk di atas


pangkuanku. Maka begitu penisku amblas ke dalam


vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai


kenikmatan yang ia dapatkan. Aku juga merasakan


kehangatan mengalir mulai ujung penisku dan mengalir ke


setiap aliran darah. Ia memegangi pundakku dan


menggerakkan pinggulnya yang indah dengan gerakan serupa


spiral. Naik turun dan memutar dengan pelan tapi


bertenaga.








Suara gesekan pemukaan penisku dengan selaput lendir


vaginanya menimbulkan suara kerenyit-kerenyit yang indah


sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku. Demikian


juga dengan gesekan rambut kemaluannya yang lebat dengan


rambut kemaluanku yang juga lebat. Suara-suara erangan


dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan


penis dan selaput lendir vaginanya serta suara gesekan


rambut kemaluan kami berbaur dengan suara lagu mistis


Sarah Brightman dari CD yang diputarnya.








Barangkali ia memang sengaja ingin mengiringi permainan


cinta kami dengan lagu-lagu seperti itu. Ia tahu aku


menyukai musik demikian. Dan memang terasa luar biasa


indah, pada suasana seperti itu. Apalagi lampu di kamar


itu juga remang-remang setelah Bu Via tadi mematikan


lampu yang terang. Dengan suasana seperti itu, rasanya


aku tidak ingin membiarkan setiap hal yang menimbulkan


kenikmatan menjadi sia-sia. Maka aku tidak membiarkan


payudaranya yang ikut bergerak sesuai dengan gerakan


tubuhnya menggodaku begitu saja. Kulahap buah dadanya


itu. Semakin lengkaplah jeritannya.








Matanya yang terpejam kadang-kadang terbuka dan tampak


sorot mata yang aku hapal seperti sorot yang keluar dari


mata Kiki saat bercinta denganku. Sorot matanya seperti


itu. Sorot mata nikmat yang membungkus perasaannya.


Sekian lama kemudian ia menjerit panjang sambil


meracau..





“Ah.. Aku.. Aku orgasme, Rud!”





Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas,


tapi matanya masih terpejam. Kemudian ia melanjutkan


gerakannya. Barangkali ia ingin mengulanginya dan aku


tidak keberatan karena aku sama sekali belum merasakan


akan sampai ke puncak kenikmatan itu. Sebisa mungkin aku


juga menggoyangkan pinggulku agar dia merasakan


kenikmatan yang maksimal. Jika tanganku tidak aktif di


buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari


daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi


oleh penisku.








Meskipun Bu via seorang janda dan sudah punya anak, aku


merasa lubang vaginanya, seperti seorang ABG saja. Tetap


rapat dan singset. Otot vaginanya seakan mencengkeram


dengan kuat otot penisku. Maka gerakan pinggulnya untuk


menaik turunkan bukit venus vaginanya menimbulkan


kenikmatan yang luar biasa. Dan sejauh ini aku tidak


merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak.








Bu Via memang luar biasa, ia seperti tahu menjaga tempo


permainannya agar aku bisa mengikuti caranya bermain. Ia


seperti tahu menjaga tempo agar aku tidak cepat-cepat


meledak. Memang sama sekali tidak ada gerakan liar. Yang


dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, tapi justru


menimbulkan kenikmatan yang luar biasa, terutama karena


aku jarang bercinta dengan perempuan lembut seperti itu.


Sekian lama kemudian aku mendengar lagi ia meracau..








“Ah.. Ah.. Ini yang kedua.. Rud, aku orgasme.. Uhh!” Di


susul jeritan panjang melepas kenikmatan itu.








Tapi kemudian ia memintaku mengangkatnya ke ranjang,


tanpa melepaskan penisku yang masih menancap di lubang


vaginanya. Ia memintaku menidurkannya di ranjang tapi


tak ingin melepaskan vaginanya dari penisku, yang sejauh


ini seperti mendekap sangat erat. Kulakukan pemintaannya


itu. Maka begitu ia telentang di ranjang, aku masih ada


di atasnya. Penisku pun masih masuk penuh di dalam


vaginanya.








Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut tapi panas


itu. Kini aku berada di atas, maka aku lebih bebas


bermanuver. Maka dengan gerakan seperti yang sering


kulakukan jika aku berhubungan seks dengan Kiki, cepat


dan bertenaga, kulakukan juga hal itu pada Bu Via. Tapi


sesaat kemudian ia berbisik dengan mata yang masih


terpejam..





“Pelan-pelan saja, Rud. Aku masih ingin orgasme”.





Aku tersadar apa yang telah kulakukan. Maka kini


gerakanku pelan dan lembut seperti permintaan Bu Via.


Kini erangan dan desahan patah-patahnya kembali


terdengar. Ia menarik punggungku agar aku lebih dekat ke


badannya. Aku maklum. Tentu ia ingin mendapatkan


kenikmatan yang maksimal dari gesekan-gesekan bagian


tubuh kami yang lain. Dan Bu Via memang benar, begitu


dadaku bergesekan dengan buah dadanya, semakin besarlah


sensasi kenikmatan yang kudapat. Kurasa demikian juga


dengannya, karena jeritannya berubah semakin santer.


Apalagi saat aku juga melumat bibir merahnya yang


menganga, seperti bibir vaginanya sebelum aku menusukkan


penisku di situ. Meskipun jeritannya agak bekurang


karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama


mulutku, tapi aku semakin sering mendengar ia mengerang


dan terengah-engah kenikmatan. Hingga beberapa saat


kemudian aku mendengar ia meracau seperti sebelumnya..








“Aku.. Ah.. Aku.. Uh.. Yang ketiga.. Aku orgasme, Rud..


Ahh”








Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka. Tampak


sorot matanya puas dan gembira. Kemudian ia berbisik


terengah-engah..





“Aku.. Aku.. Sudah cukup, Rud. Saatnya untuk kamu”.





Aku tahu yang dia maksudkan, maka kemudian pelan-pelan


semakin kugenjot gerakanku dan semakin bertenaga pula.


Ia kini membiarkanku melakukan itu. Kurasa Bu Via memang


sudah puas mendapatkan orgasme sampai tiga kali. Sekian


lama kemudian kurasakan lahar panasku ingin meledak.


Penisku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar


lagi akan ada ledakan dahsyat yang akan melambungkanku


ke awang-awang. Maka aku berusaha menarik penisku dari


lubang vaginanya yang nikmat itu. Tapi Bu Via menahan


penisku dengan tangan lembutnya.








“Biarkan.. Biarkan.. Saja di vaginaku, Rud.. Aku ingin


merasakan sensasi cairan hangat itu.. Di vaginaku..


Uhh.. Uhh”.








Maka ketika lahar panas dari penisku benar-benar


meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur vagina milik Bu


Via, dengan diiringi teriakan nikmatku.








Setelah itu, Bu Via memintaku untuk tetap berada di atas


tubuhnya barang sesaat. Dengan lembut ia menciumi


bibirku dan tangannya mengusap-usap puting susuku. Aku


juga melakukan hal yang sama dengan mengusap-usap buah


dadanya yang saat itu basah karena keringat. Dan memang


sensasi yang kurasakan luar biasa.








Cooling down yang diinginkan Bu Via itu membuatku merasa


seakan-akan aku sudah sangat dekat dengan Bu Via. Aku


merasa ia seperti kekasihku yang sudah sering dan sangat


lama bermain cinta bersama. Aku merasa sangat dekat.


Maka begitu aku merasa sudah cukup, aku menarik penisku


yang sebenarnya masih sedikit tegang dari lubang


vaginanya. Tampak air muka Bu Via sedikit kacau.


Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua


menempel di dahinya. Kami kemudian pergi ke kamar mandi


pribadinya di kamar itu. Kamar mandinya juga wangi.


Sambil bergurau, aku menggodanya..








“Ibu.. Justru kelihatan cantik setelah bercinta”. Ia


hanya tertawa mendengar gurauanku.


“Memang setelah bercinta denganmu tadi, seluruh


pori-poriku seperti terbuka. Aku sedikit capai tapi


merasa segar”, jawabnya dengan berbinar-binar.








Ia tampaknya memang puas dengan permainan cinta kami. Di


bawah shower, kami membersihkan diri dengan mandi


bersama-sama. Kadang-kadang kami saling membersihkan


satu sama lain. Ia membersihkan penisku dengan sabun dan


aku membersihkan sekitar vaginanya juga. Ia tertawa geli


saat aku dengan halus mengusap-usap vaginanya dan rambut


kemaluannya yang lebat itu.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar