pahatan purba dan fosil tikus terbesar di temukan di timor leste
perbandingan tengkorak tikus purba yg di temukan dan tengkorak tikus normal
Ilmuwan Australia menemukan pahatan dari masa prasejarah di dinding goa ketika sedang berburu fosil tikus raksasa di Goa Lene Hara, Timor Leste. Para ilmuwan memperkirakan pahatan itu berasal dari masa Pleistocene, lebih kurang 12.000 tahun yang lalu.
Pahatan menggambarkan wajah-wajah manusia prasejarah, salah satunya dengan hiasan kepala unik yang merepresentasikan matahari. Pahatan jenis tersebut merupakan pertama dan satu-satunya di Timor Leste yang berasal dari masa Pleistocene.
Ken Aplin dari Australia Commonwealth Scientific and Research Organization (Csiro) yang terlibat misi tersebut mengatakan bahwa ia menemukan pahatan tersebut secara tak sengaja. Saat melihat ke atas, senter di kepalanya tiba-tiba menyinari pahatan itu.
"Melihat ke atas dari lantai goa, senter kepala saya menyinari sesuatu yang tampak seperti pahatan. Saya melihat sekeliling dengan senter kepala saya dan melihat seluruh panel ukiran wajah manusia prasejarah pada dinding gua," katanya.
Aplin mengatakan, "Penduduk lokal yang bekerja dengan kami terpesona dengan penemuan tersebut. Mereka mengatakan bahwa wajah-wajah itu telah memilih hari tersebut untuk menampakkan diri sebab mereka bangga dengan apa yang kita lakukan."
Bentuk seni goa lain juga ditemukan dan diperkirakan berusia 30.000 tahun. Tahun lalu, pihak Csiro mengatakan bahwa mereka telah menemukan spesies tikus raksasa purba yang diklaim memiliki ukuran sebesar anjing kecil.
Sisa-sisa tikus super ini memiliki ukuran terbesar spesies hidup dari 13 jenis hewan pengerat yang ditemukan selama penelitian di Timor Leste. Aplin memperkirakan tikus tersebut hidup di wilayah itu 1.000 hingga 2.000 tahun yang lalu, dan kemungkinan besar punah karena praktik pertanian dan pembersihan habitat.
"Pembukaan hutan secara besar-besaran untuk pertanian mungkin menyebabkan kepunahan, dan ini hanya mungkin terjadi setelah manusia mengenal alat logam," kata Aplin.
Hewan pengerat ini, menurut Aplin, adalah hewan yang rentan punah karena biasanya tidak disukai manusia. "Padahal hewan pengerat membuat 40 persen keanekaragaman mamalia di seluruh dunia dan merupakan elemen kunci dari ekosistem, penting untuk proses pemeliharaan tanah, dan penyebaran bibit," katanya.
Tikus-tikus hidup terbesar dengan berat sekitar dua kilogram masih terdapat di hutan di Filipina dan Papua Nugini. Aplin optimistis bahwa setidaknya satu spesies tikus yang belum ditemukan mungkin masih hidup di Timor Timur, yang sebagian besar berbukit dan tidak dapat diakses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar